-->
Pentingnya Menghitung Dosa Diri Kita Sendiri

Pentingnya Menghitung Dosa Diri Kita Sendiri

Bagikan :
Mungkin sebagian orang menganggap menghitung dosa sebagai sesuatu yang sepele. tidak penting. atau malah dianggap kurang kerjaan. tapi, bila seseorang menyadari suatu saat hidup akan berakhir, tak mungkin selamanya ada di dunia, maka menghitung dosa akan menjadi aktivitas wajib harian.

menghitung dosa adalah ajang muhasabah diri. bisa setiap malam menjelang tidr dilakukan. Perhatikanlah dan tanyakan pada diri sendiri, segala ucap, sikap dan perilaku yang kita lakukan di sepanjang hari, sepanjang hidup yang telah dijalani.


Renungkanlah sebuah hadis berikut : "Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?;(2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?;(3) Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?;(4) Tentang badanya untuk apa ia gunakan?. (sunan At-Tirmidzi).'


Mari kita jujur menjawab dan menelusuri. sampai pada saat usia kita ini, hal apa saja yang sudah anda lakukan? bagaiman shalat kita? maih ditinggakan, masih bolong-blong atau tidak? untuk par lelaki sudahkah selalu shalat berjamaah di masjid kecuali ada uzur? bagaiman puasa dan zakat kita? sudahkah yang mampu menunaikan ibadah haji? ataukah kita lebih memilih untuk menambah koleksi rumah baru, mobil baru dan hanya duniawi lainya? sudahkah kita memenuhi hak-hak orang miskin? hak-hak anak yatim yang ada disekitar kita atau bahkan dalam tanggungan kita?


apakah ilmu yang kita miliki ini sdah kita amalkan? ilmu tentang sedekah, infaq, menutup aurat, riba, pergaulan dengan lawan jenis, muamalah, dan lain-lain, sudahkah tidak teori dalam sebuah kata? Bagi para suami, masihkah bangga saat istri bersolek ketka keluar rumah? senang kecantikan istri dikagumi orang lain? rela kejelitaan istri dinikmati pria lain? lalu dimanakah letak pengayoman dan perlindunganmu terhadap istri tercinta duhai para suami? bukankah semua orang tahu suami adalah imam, pemimpin rumah tangga yang berkewajiban mendidik istri dan menyelamatkan keluarga dari api neraka?

tentang harta kita, bagaiman kita memperoleh harta? dari yang halal atau yang haram? Menjadi rentenir, korupsi, mencuri, markup, suap atau mengambil harta yang bukan hak kkita? Atau dari hasil berdagang, bekerja, bertani, menjadi kuli dan cara halal lainya?

lalu, kemanakh harta yang kita miliki dibelanjakan? untuk infaq, membantu fakir miskin, dan si yatim, untuk kepentingan dakwah,untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT? atau untuk kesenangan diri saja, sering ke restoran top, ke diskotik, membeli minuman keras, berjudi? atau mungkinkah kita termasuk orang-orang yang suka berkali-kali beribadah umroh atas nama ibadah dan panggilan jiwa, sementara tetangga dan orang-orang disekeliling kita sedang membutuhkan pertolongan, makan pun belum tentu sehari sekali, rumah tak punya atau hanya gubug reyot, putus sekolah, sakit-sakitan karena tidak mampu berobat?

Tentang badan, untuk apa kita gunakan? Apakah kaki di bawa melangkah untuk menuntut ilmu, mengaji, shalat ke masjid, dan tempat-tempat penuh keberkahan? Atau justru di bawa ke tempat pelacuran, perjudian, dan penuh kemaksiatan? Dan apakah tubuhmu sudah kau tutupi dengan sempurna, atau justru di buka penuh dengan kebanggaan karen kulit yang mulus, rambut yang indah, dan tubuh yang aduhai? Badan dijaga kesuciannya hanya untuk suami/atau istri yang berhak, atau justru di biarkan dilihat, disentuh, dipeluk, dicium oleh pacar, atau orang yang tidak kenal atau belum halal?

Mulut digunakan untuk mengucapkan hanya yang baik-baik saja, atau justru untuk mencaci maki, melaknat, mengghibah, menjuluki orang lain dengan kata-kata buruk, mengajak dan mempengaruhi orang lain untuk berbuat maksiat, serta di umbar mengikuti hawa nafsunya?

Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah SWT menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadanya. Jadi pastikan setiap langkah adalah untuk dan karena ibadah kepada-nya. Allah SWT maha tau, lebih tahu dari kita, tak mungkin menciptakan seperangkat aturan yang manusia tak mampu memenuhinya. Setiap diri kita pasti mampu menjalankan seluruh kewajiban yang Allah SWT berikan. Tinggal kita mau atau tidak. Setiap diri pasti mampu untuk melaksanakan shalat, puasa, menutup aurat dan bergaul sesuai aturannya, hanya saja kita mau atau tidak menjalankannya. Setiap diri pasti mampu untuk mendapatkan harta dengan cara halal, hanya saja kita mau bersabar atau tidak.

Hitunglah dosa kita, selagi masih bisa melakukan. Semasa nafas masih di kandung badan. Menghitung bukan untuk kesombongan merasa diri lebih baik dan suci dari orang lain.
Namun, untuk memperbaiki diri terus menerus agar menjadi hamba yang mutaqqin. Untuk menginstropeksi diri tiada henti, agar benar ucapan kita dalam shalat, bahwa hidupku, matiku, hanya untuk Allah SWT. Untuk menyelamatkan diri kita agar tidak semakin dalam terjerumus dosa dan kemaksiatan.

Sesungguhnya perbuatan dosa ada dalam ranah pilihan manusia. Kemaksiatan ada dalam wilayah manusia, manusia bebas memilih. Tak pernah Allah SWT menciptakan manusia sebagai orang pendosa, pelacur, penjudi, artis pengumbar aurat, dan lain-lain.
Tetapi manusia sendirilah yang mendzolimi diri sendiri dengan memilih jalan yang salah. Bukankah Allah SWT telah berfirman, telah ditunjukan dua buah jalan. Jalan kebenaran dan jalan kemaksiatan. Telah disediakannya pula dua tempat, Surga dan neraka. Kita bebas menentukan pilihan.
Silahkan pilih yang mana, jalan kebaikan atau kemaksiatan.
Wallahu'alam.

Itulah yang dapat saya sampaikan, kurang lebih nya mohon maaf dan jika ada kesalahan kata baik yang disengaja maupun tidak. Sekali lagi saya mohon maaf.
Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kenyamanan.
Semoga bermanfaat^_^

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel